Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan adanya kendala dalam proses impor minyak dari Singapura setelah dua kapal kargo yang membawa minyak untuk Indonesia sempat ditahan oleh pihak setempat.
Peristiwa tersebut telah dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto dalam sidang kabinet paripurna yang berlangsung di Istana Negara, Jakarta.
Menurut Bahlil, dua kapal kargo tersebut membawa minyak impor yang dibeli oleh PT Pertamina (Persero) melalui perusahaan perantara atau trader. Kapal tersebut bahkan sudah memasuki perairan Indonesia sebelum akhirnya diminta kembali oleh pihak terkait.
Ia menjelaskan kepada awak media bahwa insiden tersebut terjadi beberapa hari setelah proses pembelian dilakukan. Kapal yang sudah dalam perjalanan menuju Indonesia kemudian diminta untuk kembali ke titik awal oleh pihak yang melakukan penahanan.
Bahlil menilai kejadian tersebut tidak lepas dari ketatnya persaingan dalam perdagangan minyak dunia. Kondisi tersebut kerap membuat sejumlah pelaku usaha mengabaikan mekanisme perdagangan yang seharusnya diterapkan.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, pihak Pertamina segera melaporkan masalah tersebut kepada pemerintah. Pemerintah kemudian melayangkan komplain resmi kepada pihak terkait agar persoalan tersebut segera diselesaikan.
Menurut Bahlil, hasil komunikasi tersebut menunjukkan respons yang cukup positif. Dua kargo minyak yang sempat tertahan disebut akan dikembalikan pada tanggal yang telah disepakati.
Di sisi lain, Bahlil juga mengakui bahwa Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.
Ia menjelaskan bahwa impor dari kawasan Timur Tengah umumnya berupa minyak mentah atau crude oil, bukan produk bahan bakar siap pakai. Volume impor minyak mentah dari kawasan tersebut diperkirakan sekitar 20 persen dari total kebutuhan impor.
Sementara itu, kebutuhan bahan bakar jadi sebagian besar dipenuhi dari sejumlah negara lain, seperti Angola, Nigeria, Brasil, hingga Amerika Serikat.
Bahlil menambahkan bahwa Indonesia juga mulai menjajaki kerja sama kontrak jangka panjang dengan Amerika Serikat untuk pasokan minyak. Meski demikian, waktu pengiriman dari negara tersebut dinilai lebih lama dibandingkan dengan pengiriman dari kawasan Timur Tengah.
Menurutnya, pengiriman dari Amerika Serikat dapat memakan waktu sekitar 40 hari, sedangkan dari Timur Tengah biasanya hanya membutuhkan waktu dua hingga tiga minggu.
Pemerintah berharap langkah diversifikasi sumber impor energi tersebut dapat memperkuat ketahanan energi nasional serta mengurangi potensi gangguan pasokan di masa mendatang.
(Red.EH)